"DO THE BEST AND ALSO YOU GET THE BEST"

Senin, 06 Juni 2011

TAK MUNGKIN - Treeji

Tak mampu berkata
Di saat pertama ku melihat wajahmu
Langsung berdebar
Tak mampu hilangkan pikiranku tentangmu
Di saat ku coba untuk lupakan
Namun semakin lama
Semakin ku ingin dirimu
Reff:
Tak mungkin ku rasakan
Bila tak jatuh cinta
Setiap saat kau ada di benakku
Tak mungkin ku menggila
Bila tak ku berjumpa
Setiap saat ku ingin bersamamu
(Jatuh cinta padamu)
Tak bisa berpaling
Sejak ku jumpa denganmu
Di saat ku jalan dengan yang lain
Tak bisa mencari ‘tuk pengganti dirimu
Di saat ku memilih
Namun semakin lama
Semakin ku ingin dirimu
Back to Reff:
Dan bila kau pun bisa
Rasakan yang ku rasakan
Then if you really wanna be mine
You will say yes i do
Namun semakin lama
Semakin ku ingin dirimu

Sabtu, 04 Juni 2011

Perjuangan Kemerdekaan



Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

            Hari ini tanggal 17 Agustus 2011 dimana aku menyanyikan lagu “Hari Merdeka” pada upacara bendera di sekolah. Entah mengapa ketika aku menyanyikan lagu ini, sekujur tubuhku merinding. Aku teringat jasa para pahlawan Indonesia, termasuk kakekku yang juga merupakan seorang pejuang.
            Dulu kakek pernah bercerita tentang kehidupannya pada zama perjuangan...
“Boooom...dor..dor...” suara geranat dan tembakan memenuhi medan perang hari itu. Terlihat banyak mayat terkapar disekitarku. Terlintas dalam benakku “bukankah aku masih terlalu kecil untuk melihat kejadian seperti ini. Ya, tapi mau bagaimana lagi, inilah keadaan negeriku sekarang”
“Parmiiiin !!!” teriak seseorang dari kejauhan.
“Loh.. Ibu.. ada apa?” balasku.
‘Ayo cepat kita harus menyelamatkan diri. Tentara Jepang sudah membakar rumah kita”
“Baik, Bu” ucapku seraya berlari mendekati Ibuku. Tingaal beberapa langkah dengan Ibuku, aku melihat ada 2 orang tentara Jepang membawa senapan dan mengarahkannya ke tubuh Ibuku.
“Dooor...!!! bruuuk”  
Begitu jelas terlihat di depan mataku, orang yang sangat aku cintai itu jatuh lemas di atas tanah. Sontak aku berlari mengahampirinya. Namun, ada orang menarik tanganku dan menahannya seakan-akan melarang aku untuk mendekati Ibuku. Mereka memboyongku enath menuju kemana. Aku berusaha memberontak sambil terus berteriak meamnggil Ibuku. Tapi kekuatanku tidak melebihi kekuatan mereka.
            Hingga sampailah aku di suatu gubuk. Kedua orang yang tak aku kenali itu membawaku masuk ke dalam gubuk itu. Aku mengedarkan pandanganku, melihat seluruh penjuru gubuk. Ternyata di dalam gubuk yang kumuh ini terdapat anak-anak seumuranku. Mereka terlihat lusuh dengan baju benodakan darah. Kecuriganku mulai muncul, untuk apa mereka membawaku kemari? Apa yang akan mereka lakukan padaku?
            Tak lama dtanglah sekelompok pemuda pribumi. “Misi kita kali ini adalah membebaskan para tawanan perang dengan cara bergerilya. Kami baru mendapat kabar bahwa Ir. Soekarno dibawa ke Rengasdengklok, oleh karena itu para tentara Jepang pasti akan terfokus mencari keberadaan beliau dan kita akan lebih mudah untk mengelabui para tentara Jepang itu” jelas salah satu dari mereka. Ternayata kecurigaanku salah, mereka memiliki niat yang baik. Mereka mengumpulkan anak-anak seperti kami untuk membantu para tawanan perang seperti Ayahku.
            Keesokan harinya aku bersama teman-teman seperjuanganku mulai beraksi menjalankan misi tersebut. Salah satu dari kami berpura-pura menjadi romusha yang mengantarkan makanan kepada tentara Jepang yang sedang berjaga di depan penjara. Ia mengantarkan roti isi yang sudah kami berikan racun tikus sebelumnya. Tanpa ada rasa kecurigaan para tentara Jepang melahap roti isi itu. Dan seketika para tentara itu jatuh pingsan.
            Aku dan anak-anak lainnya segera menyelinap ke penjara-penjara yang gelap dan lembab itu. Merogoh saku celana tentara Jepang tersebut, mengambil kunci dan membuka pintu penjara itu satu persatu. Setelah semua pintu penjara terbuka, aku mendengar suara berat memanggil namaku.
“Parmiiiin!!!” teriaknya.
Aku menoleh dan terlihat seorang sosok yang sudah tak asing lagi bagiku.
“Ayaaaah!!!” kataku. Aku segera berlari menuju orang paruh baya itu. Memeluknya erat sambil meneteskan air mata. Sama seperti apa yang dilakukan oleh teman-teman seperjuanganku pada orang yang mereka rindukan masing-masing. Disebelah Ayah juga ada kakak laki-lakiku. Aku melepas rindu bersama mereka sembari menceritakan kematian Ibuku.
“Alhamdulillah... misiku berhasil. Terima kasih Tuhan” ujarku di dalam hati.
            Selang beberapa hari dari bebasnya Ayah serta tawanan perang lainnya, tersebar kabar bahwa Ir. Soekarno telah membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di kediamannya, Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Terdengar di seluruh penjuru Nusantara meneriakkan kata MERDEKA!!!
            Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang mengiringi penaikkan bendera merah putih dikumandangkan. Memberikan rasa khidmat pada upacara tanggal 17 Agustus 1945. Hari lahirnya bangsa Indonesia.
            Ya... itulah sepenggal cerita kakek yang membuat aku sempat tertegun ketika mendengarnya. Ceritanya sungguh menananmkan rasa cinta tanah air pada diriku. Aku tahu betapa besar pengorbanan kakek dan para pejuang lainnya demi mendapatkan kemerdekaan negara ini.
            Dan aku yang tak hidup pada masa penjajahan seperti kakekku itu, harus dapat menghargai jasa para pahlawan seperti kaekku dan pejuang lainnya. Aku harus tetap setia dan sedia dalam membela dan mempertahankan Indonesiadi masa sekarang. Semua dapat diwujudkan dengan belajar secara tekun dan berusaha secara giat untuk memajukan Indonesiaku ini.