Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita
Hari
ini tanggal 17 Agustus 2011 dimana aku menyanyikan lagu “Hari Merdeka” pada
upacara bendera di sekolah. Entah mengapa ketika aku menyanyikan lagu ini,
sekujur tubuhku merinding. Aku teringat jasa para pahlawan Indonesia, termasuk
kakekku yang juga merupakan seorang pejuang.
Dulu
kakek pernah bercerita tentang kehidupannya pada zama perjuangan...
“Boooom...dor..dor...” suara geranat dan tembakan
memenuhi medan perang hari itu. Terlihat banyak mayat terkapar disekitarku. Terlintas
dalam benakku “bukankah aku masih terlalu kecil untuk melihat kejadian seperti
ini. Ya, tapi mau bagaimana lagi, inilah keadaan negeriku sekarang”
“Parmiiiin !!!” teriak seseorang dari kejauhan.
“Loh.. Ibu.. ada apa?” balasku.
‘Ayo cepat kita harus menyelamatkan diri. Tentara Jepang
sudah membakar rumah kita”
“Baik, Bu” ucapku seraya berlari mendekati Ibuku. Tingaal
beberapa langkah dengan Ibuku, aku melihat ada 2 orang tentara Jepang membawa senapan
dan mengarahkannya ke tubuh Ibuku.
“Dooor...!!! bruuuk”
Begitu jelas terlihat di depan mataku, orang yang
sangat aku cintai itu jatuh lemas di atas tanah. Sontak aku berlari
mengahampirinya. Namun, ada orang menarik tanganku dan menahannya seakan-akan
melarang aku untuk mendekati Ibuku. Mereka memboyongku enath menuju kemana. Aku
berusaha memberontak sambil terus berteriak meamnggil Ibuku. Tapi kekuatanku
tidak melebihi kekuatan mereka.
Hingga
sampailah aku di suatu gubuk. Kedua orang yang tak aku kenali itu membawaku
masuk ke dalam gubuk itu. Aku mengedarkan pandanganku, melihat seluruh penjuru
gubuk. Ternyata di dalam gubuk yang kumuh ini terdapat anak-anak seumuranku. Mereka
terlihat lusuh dengan baju benodakan darah. Kecuriganku mulai muncul, untuk apa
mereka membawaku kemari? Apa yang akan mereka lakukan padaku?
Tak
lama dtanglah sekelompok pemuda pribumi. “Misi kita kali ini adalah membebaskan
para tawanan perang dengan cara bergerilya. Kami baru mendapat kabar bahwa Ir. Soekarno
dibawa ke Rengasdengklok, oleh karena itu para tentara Jepang pasti akan
terfokus mencari keberadaan beliau dan kita akan lebih mudah untk mengelabui
para tentara Jepang itu” jelas salah satu dari mereka. Ternayata kecurigaanku
salah, mereka memiliki niat yang baik. Mereka mengumpulkan anak-anak seperti
kami untuk membantu para tawanan perang seperti Ayahku.
Keesokan
harinya aku bersama teman-teman seperjuanganku mulai beraksi menjalankan misi
tersebut. Salah satu dari kami berpura-pura menjadi romusha yang mengantarkan
makanan kepada tentara Jepang yang sedang berjaga di depan penjara. Ia mengantarkan
roti isi yang sudah kami berikan racun tikus sebelumnya. Tanpa ada rasa
kecurigaan para tentara Jepang melahap roti isi itu. Dan seketika para tentara
itu jatuh pingsan.
Aku
dan anak-anak lainnya segera menyelinap ke penjara-penjara yang gelap dan
lembab itu. Merogoh saku celana tentara Jepang tersebut, mengambil kunci dan
membuka pintu penjara itu satu persatu. Setelah semua pintu penjara terbuka,
aku mendengar suara berat memanggil namaku.
“Parmiiiin!!!” teriaknya.
Aku menoleh dan terlihat seorang sosok yang sudah
tak asing lagi bagiku.
“Ayaaaah!!!” kataku. Aku segera berlari menuju
orang paruh baya itu. Memeluknya erat sambil meneteskan air mata. Sama seperti
apa yang dilakukan oleh teman-teman seperjuanganku pada orang yang mereka
rindukan masing-masing. Disebelah Ayah juga ada kakak laki-lakiku. Aku melepas
rindu bersama mereka sembari menceritakan kematian Ibuku.
“Alhamdulillah... misiku berhasil. Terima kasih
Tuhan” ujarku di dalam hati.
Selang
beberapa hari dari bebasnya Ayah serta tawanan perang lainnya, tersebar kabar
bahwa Ir. Soekarno telah membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia di kediamannya, Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Terdengar di seluruh
penjuru Nusantara meneriakkan kata MERDEKA!!!
Lagu
kebangsaan Indonesia Raya yang mengiringi penaikkan bendera merah putih
dikumandangkan. Memberikan rasa khidmat pada upacara tanggal 17 Agustus 1945. Hari
lahirnya bangsa Indonesia.
Ya...
itulah sepenggal cerita kakek yang membuat aku sempat tertegun ketika
mendengarnya. Ceritanya sungguh menananmkan rasa cinta tanah air pada diriku. Aku
tahu betapa besar pengorbanan kakek dan para pejuang lainnya demi mendapatkan
kemerdekaan negara ini.
Dan
aku yang tak hidup pada masa penjajahan seperti kakekku itu, harus dapat
menghargai jasa para pahlawan seperti kaekku dan pejuang lainnya. Aku harus
tetap setia dan sedia dalam membela dan mempertahankan Indonesiadi masa
sekarang. Semua dapat diwujudkan dengan belajar secara tekun dan berusaha
secara giat untuk memajukan Indonesiaku ini.