"DO THE BEST AND ALSO YOU GET THE BEST"

Minggu, 23 Agustus 2015

Ini Hanya Masalahku dengan Diriku

Rindu. Hal yang paling menyakitkan dari rindu adalah ketika kamu tidak dapat mengungkapnya. Mungkin karena gengsi yang terlalu tinggi atau karna kamu tahu mengungkapkannya tidak akan membuat dia kembali.

Hari ini, setelah melewati beberapa hari itu kita bertemu kembali. Degup jantungku masih sama cepatnya seperti hari hari sebelumnya. Ketika aku masih dengan mudahnya menemui sosokmu. Namun, banyak ketidaksamaan seperti hari hari itu. Jarak semakin terlihat jelas.
Obrolan hangat itu menjadi kaku.
Layaknya aku yang tidak mengenalimu lagi.
Baiklah, lupakan saja tentang bagaimana kita melewati moment canggung ini. Karena ada yang lebih menusuk.

Perpisahan. Mungkin beberapa hari lalu perpisahan hanya tentang aku dan kamu yang kembali ke rumah masing-masing. Biasa saja. Tapi kali ini aku tahu bahwa entah kapan kita akan bertemu kembali. Karna aku tahu setelah ini mungkin untuk sekedar berkata "Hai" saja aku tidak mampu.

Bukan. Bukan waktu yang salah. Bukan juga  kamu yang salah. Hanya ada yang salah dengan perasaanku. Ya, ini hanya masalahku dengan diriku.

Kamis, 26 Maret 2015

Dear "Anak Sulung"

Sebagai anak sulung dari 3 bersaudara gua kadang ngerasa cape (jadi anak sulung) dan pengen ngeluh tapi gatau ke siapa. Ke ortu ga mungkin karena gua takut membebani mereka dengan keluhan - keluhan gua yang sebenernya ga penting banget. Nah untungnya gua punya Allah (pastinya) dan si goblog ini yang selalu siap jadi tempat gua berkeluh kesah ketika gua ga tau mesti curhat ke siapa lagi *that's why isi blog gua curhatan semua* 
Nah, jadi di suatu hari yang penuh kepenatan karna macetnya ibu kota *halaaah, gua duduk di meja kerja sambil memandang laptop dan tiba-tiba ngeliat ada artikel dari media online Hipwee (yang ngehits bingits seantero jagat raya) yang ngebahas tentang "anak sulung". Jadi begini isinya:

                                                  **************

Wahai sesama anak sulung,
Tidak mudah memang menyandang gelar anak pertama di dalam keluarga. Sejak kecil, kamu diajarkan orangtua untuk tumbuh lebih cepat dewasa dibandingkan saudara-saudaramu yang lainnya. Ada kesepakatan yang otomatis bahwa suatu hari nanti, kamulah yang akan menerima tongkat estafet dari mereka untuk merawat dan menjaga keluarga.
Kadang kamu berandai-andai bagaimana rasanya tak menjadi yang paling tua dalam keluarga. Kamu juga ingin bisa sejenak bermanja-manja dan malas-malasan. Ingin juga punya saudara yang umurnya jauh di atasmu memberikan uang tambahan untuk sekadar jajan atau menambah pundi tabungan.
Namun kenyataannya kamu tetaplah anak sulung, dengan berbagai tanggung jawab yang tertumpuk di bahu. Kamu memiliki segudang kewajiban ini-itu. Kamu tidak bisa seenaknya sendiri melakukan hal-hal yang sebenarnya kamu inginkan, karena harus bisa menjadi sosok yang bisa ditiru dan dibanggakan. Tapi sudahlah, jalani saja, toh status sebagai anak tertualah yang telah menjadikanmu dirimu yang saat ini.

Sebagai anak tertua, kamulah yang paling paham jatuh-bangun orangtua. Apapun keadaannya, kamu dituntut bersikap tenang dan dewasa



Menjadi anak yang lahir pertama dalam keluarga sebenarnya membentuk sikap yang lebih dewasa daripada adik-adikmu. Kamu adalah saksi jatuh bangun perjuangan orangtua. Bahkan, bisa dibilang kamu yang paling paham sejarah dari Ayah dan Ibu. Kamu mengerti bagaimana kesusahan yang mereka alami saat keluarga kalian masih belum semapan sekarang. Ketika semua adikmu bersenang-senang karena masih belum paham, kamu sudah memikirkan bagaimana cara supaya roda perekonomian keluarga tetap berjalan.
Ya, berusia lebih tua dan memahami kesulitan orangtua mampu membentukmu menjadi pribadi yang lebih dewasa. Kamu pun terbiasa meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk turut memikirkan kehidupan keluarga ke depannya. Namun sebenarnya, biasa bersikap dewasa seperti ini justru akan membuat hidupmu menjadi lebih mudah karena kamu lebih peka membaca situasi dan kondisi yang ada di sekitarmu.


Menjadi anak sulung bukan berarti kamu bisa mengatur semua orang seenaknya. Kamu justru harus mau berkompromi dan mengalah untuk kebaikan bersama.


Terlahir sebagai anak sulung bukan berarti kamu bisa seenaknya dalam bersikap. Mentang-mentang lebih tua, bukan berarti kamu bisa asal menyuruh adik-adik untuk melakukan sesuatu sesuai keinginanmu. Sebaliknya, kamu justru dituntut untuk mau mengalah demi kepentingan bersama. Sebagaimana seorang pemimpin, kamu harus bijak dan adil dalam mengatur segalanya. Membagi hal sama adilnya dengan apa yang adik-adikmu punya.
Kebiasaan seperti ini justru akan menjadikanmu pribadi yang pandai dalam pengambilan keputusan. Ya, semakin dewasa kamu semakin adil dan bijaksana dalam bersikap dan memikirkan berbagai pihak sebelum mengambil keputusan.


Mampu memimpin hidup sendiri adalah sikap yang biasanya paling menonjol dari dirimu.



Sejak kecil kamu sudah diarahkan untuk selalu bisa mandiri supaya tidak merepotkan orangtua yang pada saat itu sedang kelimpungan mengurus kebutuhan si adik. Mulai dari membuat PR tanpa bimbingannya, “diutus” berbelanja ke warung di ujung gang sendirian, hingga menjaga supaya adik tidak rewel saat ditinggal orangtua.
Dituntut untuk bisa ini itu dengan tangan sendiri dan kemana-mana seorang diri sebenarnya membuat banyak keuntungan untuk kepribadianmu yang telah dewasa. Mentalmu kian terbentuk. Kamu terbiasa mengandalkan diri dan tidak merepotkan orang lain. Kamu pun lebih menguasai ilmu bertahan hidup. Ya, kamu yang telah dewasa justru lebih mandiri dan tahu kemana arah tujuan langkah kaki membawamu.


Selalu menjadi panutan bagi adik-adikmu, kamu pun terbiasa menempatkan standar yang tinggi untuk diri sendiri


Menjadi sulung kamu biasa menjadi sosok yang selalu dicontoh oleh adik-adikmu. Segala tindakanmu ditiru dan diadaptasi oleh si adik. Tanpa disadari kamu berusaha melakukan hal yang mampu membanggakan orangtua sehingga nantinya si adik akan meniru segala tingkah lakumu. Kamu memilih jalan setapak yang memang akan membawamu ke tempat yang tepat, supaya adikmu juga selalu mengikuti tiap langkahmu.
Karena terbiasa ingin memberi contoh teladan yang baik, kamu pun juga terbiasa akan standar yang tinggi atas dirimu sendiri. Hidupmu pun lebih mengarah karena kamu adalah sosok panutan. Jika diibaratkan seorang nahkoda kapal, kamu tahu di pulau mana kapalmu harus berlabuh.


Karena tanggung jawabmu selalu lebih besar daripada milik adik-adik, kamupun terbiasa mengalah dan melindungi


Tanggung jawab yang dipikul kamu yang berstatus sebagai anak sulung memang lebih besar porsinya. Kamu terbiasa diserahi tanggung jawab untuk menjaga adik-adikmu. Menjemput mereka dari sekolah hingga memastikan mereka menyantap makan siang ketika ayah atau ibu sedang sibuk di kantor.
Walaupun mungkin sebagai seorang kakak paling tua niat isengmu selalu ada, diam-diam ketika tidak ada kedua orangtua nalurimu sebagai penjaga perdamaian akan muncul. Kamu rela bilang iya pada kemauan yang lain supaya tidak menimbulkan keributan. Bahkan, kamu juga akan sedia turun tangan ketika adikmu saling bertengkar memperebutkan sesuatu. Kamu pun tidak segan-segan akan melindungi adikmu ketika ada yang iseng mengganggunya.
Pola hidup yang seperti ini lama kelamaan akan membuatmu terbiasa menjadi pribadi yang mengalah dan berbesar hati. Kamupun jadi memiliki naluri untuk memenuhi kebutuhan orang yang ada di sekitarmu serta menjaga orang yang kamu kasihi.


Terbiasa menyediakan telinga bagi adik dan orangtua menjadikanmu pribadi yang matang luar biasa



Karena usiamu yang paling tua, biasanya kamu adalah yang paling dekat dengan orangtua. Kamu dianggap paling memahami dan bisa diajak berbagi. Kamu pun biasa menjadi pendengar yang baik ketika kedua orangtuamu mencurahkan permasalahan kepadamu. Bahkan, adik-adikmu juga menganggap bahwa kamu adalah tempat penyelesaian masalah dan dimana meminta nasihat.
Terbiasa menjadi tempat penyelesaian masalah, membuatmu selalu menyediakan telinga dan berhati lapang. Lama kelamaan kamu akan menjadi pribadi yang selalu berbesar hati mendengar curahan orang lain dan mudah berempati.


Asa Ayah dan Ibu terletak di bahumu. Dan kamu tahu, kamu akan bisa membahagiakan mereka sebagaimana seharusnya.


Tahukah kamu, saat kelahiranmu adalah saat yang paling dinanti kedua orangtua? Kehadiranmu dipersiapkan dan saat kamu sudah bisa menatap dunia, mereka bekerja keras supaya kebutuhan tidak berkekurangan. Menjadi anak pertama membuatmu mendapat curahan kasih tak terkira sekaligus pusat pengharapan. Ya, doa ayah dan ibu tak putus-putusnya ada untukmu. Bahkan, di kedua bahumu, harapan mereka tertambat.
Mereka ingin kamu yang menjadi anak yang bisa mengukir kesuksesan dan menjadi panutan bagi adik-adik. Dengan segala perjuangan serta pengharapan mereka untukmu, sudah selayaknya porsimu untuk membahagiakan mereka jauh lebih besar daripada adik-adimu. Ya, nantinya kamulah yang harus bisa memberi contoh serta memimpin adik-adik bagaimana harus bersikap demi membalas jasa orangtua.

Jika dipikir ulang, justru tanpa disadari banyak sekali manfaat yang kamu peroleh dengan menyandang status sebagai anak sulung. Kamu menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan dewasa dalam menyikapi permasalahan yang terkadang menyambangi hidupmu. Bukankah ini merupakan modal yang cukup kuat untuk menjadi tangguh dan menjalani hari-harimu ke depannya.

**************

Nah gitu deh ini artikel sukses bikin gua bersyukur dan mengakhiri semua keluhan-keluhan tentang kenapa gua jadi anak sulung. Ternyata banyak hal positif yang tanpa disadari mengubah karakter lu jadi lebih dewasa bahkan di umur yang belum mateng. So, buat kalian para anak sulung berhentilah iri pada adik-adik kalian soal lebih disayanglah, dimanjainlah, karena sesungguhnya kalian udah dapet sesuatu yang lebih dibanding adik-adik kalian. Dan besyukurlah karena dilahirkan sebagai anak sulung menjadikan kalian seperti kalian yang saat ini.

Senin, 24 November 2014

Kamu ga pernah ngerti kalo yg semua aku lakuin itu buat bantu wujudin mimpi kamu. 
Kamu ga pernah tau kalo aku selalu doain kamu, disini. Cuma satu, supaya kamu bisa dapetin cita cita kamu. Iya kamu ga bakalan ngerti, semuanya untuk kamu. Biar kamu bahagia. 
Biar ketika kamu sudah mencapai puncak mimpi kamu, disitu ada aku. Ada bagian dari aku dalam hidup kamu.

Selasa, 04 November 2014

Semacam Song Review: Dekat Di Hati by RAN



Pertama nemu lagu ini sebenernya gara - gara sering liat "Listening to" nya temen - temen di path. Penasaran, langsung searching videonya di youtube. Yah belum ada video klipnya :( alhasil nemu video liriknya aja nih, nothing to lose sih lumayan jadi ga usah nyari nyari liriknya lagi.
Oke deh dengerin lagunya sambil memahami satu persatu syairnya. 1 kali denger "asik nih nadanya, dengerin lagi ah", 2 kali denger "eh liriknya bagus juga, coba lagi ah", 3 kali denger "oke kayanya mesti download lagunya deh"
Downloaded! "oke mari kita dengarkan lagunya! eh eh kok tapi... aaaaaakkkkk seneeeeng banget sama lagu satu ini!!! Honestly, asli ga pake boong!" haha oke ini gua lebay banget.
Tapi beneran lagu ini sukses bikin gua jatuh cinta lagi sama group yang 1 ini, setelah sekian lama gua agak bosan dengerin lagu mereka.
Lagu tentang Long Distance Relationship ini bikin gua agak sedikit throwback pas jamannya.... eeeem ga usah dicurhatin juga lah yak.
Iya sebenernya agak ngenes ngenes ngegemesin gitu sih lagunya ya secaraaa ya tau lah rasanya LDR-an kaya gimana. Tapi si RAN ini sukses ngebungkus sense kesedihan LDR itu jadi menyenangkan lewat lirik lagu dekat di hati ini. Ibaratnya tuh dodol yang dibungkus kertas coklat cadburry haha *penting banget nih* . Walaupun jenis musiknya ga jauh beda sama lagu - lagunya RAN yang terdahulu, tapi lagu ini berhasil memberikan something new buat RAN.
Lagu dari album "Hari Baru" ini ternyata sukses juga menempati chart nomor 1 di Itunes. wohoooo!
Dan lagu ini berhasil jadi lagu yang paling sering gua puter selama kuarang lebih 2 bulan ini.
Selain itu, pesan dalam lirik lagu dekat di hati ini lumayan dahsyat yaa buat para korban LDR. Iya walaupun beda jarak dan waktu, selama kalian masih memandang langit yang sama, intinya saling percaya dan komunikasi lah yang paling penting walaupun hanya berjumpa via suara :)


Rabu, 29 Oktober 2014

I know that I don't own you,
     and perhaps I never will,
so my anger when you're with her,
   I have no right to feel.


                     I know that you don't owe me,
                      and I shouldn't ask for more,
                     I shouldn't feel so let down,
                     all the times when you don't call



      What I feel; I shouldn't show you,
       so when you're around I won't,
     I know I have no right to feel it
       but it doesn't mean I don't

Jumat, 10 Oktober 2014

Ada "kamu"


Ada kamu dalam setiap pagiku
Ada kamu dalam setiap aku pulang dari kantor dan mulai merebahkan badan
Ada kamu di setiap saat aku memasang earphone di telinga, mendengarkan lagu
Ada kamu di setiap aku mendengarkan lagu, sambil tersenyum atau menangis
Ada kamu dalam setiap aku tersenyum atau menangis karna mendengarkan lagu sambil menyatukan bayangan – bayangan imaginasi tentang kita
Ada kamu ketika bayangan – bayangan imaginasi itu menghantarkanku pada rasa kantuk dan terlelap
Ada kamu dikala tidurku berbuah mimpi hingga aku terbangun esok pagi

Terima kasih untuk selalu ada disetiap waktu walaupun kamu tidak ada disisiku

kamu” adalah setiap pikiranku tentang kamu.




Selasa, 08 Juli 2014

Aku Mau Tenang..

Tuhan maaf kalau lagi lagi aku mengeluh.
Aku saat ini sedang berada di titik lelah.
Aku hanya ingin bebas dari semua perasaan yang tak kunjung jelas arahnya ini.
Aku lelah terus merasa bersalah atas semua yang telah aku lakukan.
Aku penat dengan semua perasaan yang meracau di hatiku, yang aku rasa ini hanya masalah dengan diriku sendiri saja.
Tak ada lawan, hanya diriku.

Aku hanya mau tenang dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja sesuai kehendak-Mu.
Tanpa aku harus menghawatirkan tiap detiknya.
Menikmati tiap rasa dari Anugerah-Mu.

Memang aku yang bodoh, dan memang aku yang salah.
Tapi aku mau berhenti menyalahkan diriku sendiri.
Aku tahu aku salah, tapi sudahlah.
Semuanya belum tentu dapat membalikkan keadaan seperti dulu lagi.
Dia pergi dan aku tidak dapat mencegahnya.
Lalu apa...
Lagi lagi aku menyerahkan segalanya pada-Mu, Sang Maha pembolak-balik hati.